JAKARTA, KOMPAS.com — Motif pembunuhan terhadap mahasiswi Universitas Bina Nusantara, Livia Pavita Soeslitio (20), akhirnya terkuak. Pelaku diduga merampok, lalu memerkosa Livia. Setelah itu, pelaku tega menghabisi nyawa putri dari Yusni Chandra dan Hermanto itu. Hal ini disampaikan Kapolres Jakarta Barat Komisaris Besar Setija Junianta, Jumat (26/8/2011), saat dihubungi wartawan.
"Sejauh ini motifnya perampokan dan diduga korban diperkosa lalu dibunuh," ujar Setija.
Namun, Setija masih belum mau memberikan keterangan lengkap terkait barang-barang Livia yang berhasil digondol polisi. "Nanti saja pas rilis," katanya singkat.
Adapun dua pelaku sudah diringkus Polres Metro Jakarta Barat. Sementara satu orang lagi yang diduga memerkosa Livia masih diburu. Seperti diberitakan, Livia Pavita Soelistio diketahui menghilang sejak tanggal 16 Agustus 2011. Pada hari itu, dia berangkat dari rumah dengan menggunakan kemeja putih dan rok hitam menuju kampus Universitas Bina Nusantara untuk mengikuti ujian.
Seusai mengikuti ujian, teman kampus melihat Livia masih berada di lapangan parkir. Keluarga masih bisa mengontak Livia hingga 17 Agustus 2011, tetapi tidak pernah dijawab. Setelah tanggal itu, ponsel Livia langsung tidak aktif. Baru pada Minggu, 21 Agustus 2011, seorang warga menemukan sesosok mayat tak beridentitas mirip Livia di selokan sebuah kebun di wilayah Cisauk, Tangerang.
B. Terapi
Terapi yang cocok untuk menangani contoh kasus di atas adalah terapi Realitas. Menurut Buwono (2007 )Terapi realitas bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan pemenuhan kebutuhan emosional individu dengan jalan membantu individu berbuat realistik, dapat dipertanggung jawabkan, dan benar secara normatif. Tujuan ini akan tumbuh dengan adanya keterlibatan emosional, hubungan yang bersifat memelihara yang merupakan perwujudan cinta dan disiplin.
C. Terapi Realitas
Menurut Corey (2013) terapi realitas adalah suatu sistem yang difokuskan pada tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu klien menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung jawab pribadi yang dipersamakan dengan kesehatan mental. Glasser mengembangkan terapi realitas dari keyakinannya bahwa psikiatri konvensional sebagian besar berlandaskan asumsi-asumsi yang keliru realitas, yang menguraikan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur yang dirancang untuk membantu orang-orang dalam mencapai suatu “identitas keberhasilan”, dapat diterapkan pada psikoterapi, konseling, pengajaran, kerja kelompok, konseling perkawinan, pengelolaan lembaga, dan perkembangan masyarakat. Terapi realitas adalah suaru bentuk modifikasi tingkah laku karena, dalam penerapan-penerapan institusionalnya, merupakan tipe pengondisian yang ketat.
D. Proses Terapeutik
Tujuan-tujuan terapeutik Glasser dan Zunin (1973) sepakat bahwa terapis harus memiliki tujuan-tujuan tertentu bagi klien dalam pikirannya. Akan tetapi, tujuan-tujuan itu harus diungkapkan dari segi konsep tanggung jawab individual alih-alih dari segi tujuan-tujuan behavioral karena klien harus menentukan tujuan-tujuan itu bagi dirinya sendiri. Mereka menekankan bahwa kriteria psikoterapi yang berhasil sangat bergantung pada tujuan-tujuan yang ditentukan oleh klien. Meskipun tidak ada kriteria yang kaku yang pencapaiannya menandai selesainya terapi, kriteria umum mengenai pencapaian tingkah laku yang bertanggung jawabdan pemenuhan tujuan-tujuan klien menunjukan bahwa klien mampu melaksanakan rencana-rencananya secara mandiri dan tidak perlu lagi diberi treatment.
E. Ciri-ciri Terapi Realitas
1. Terapi realitas menolak konsep tentang penyakit mental. Ia berasumsi bahwa bentuk-bentuk gangguan tingkah laku yang spesifik adalah akibat ketidakbertanggungjawaban. Pendekatan ini tidak berurusan dengan diagnosis-diagnosis psikologis. Ia mempersamakan gangguan mental dengan tingkah laku yang tidak bertanggungjawab dan mempersamakan kesehatan mental dengan tingkah laku yang bertanggung jawab.
2. Terapi realitas berfokus pada tingkah laku sekarang alih-alih pada perasaan-perasaan dan sikap-sikap. Meskipun tidak menganggap perasaan-perasaan dan sikap-sikap itu tidak penting, terapi realitas menekankan kesadaran atas tingkah laku sekarang. Terapis realitas juga tidak bergantung pada pemahaman untuk mengubah sikap-sikap, tetapi menekankan bahwa perubahan sikap mengikuti perubahan tingkah laku.
3. Terapi realitas berfokus pada saat sekarang, bukan kepada masa lampau. Karena masa lampau seseorang itu telah tetap dan tidak bisa diubah, maka yang bisa diubah hanyalah saat sekarang dan masa yang akan datang. Terapis terbuka untuk mengeksplorasi segenap aspek dari kehidupan klien sekarang mencakup harapan-harapan, ketakutan-ketakutan dan nilai-nilainya.
4. Terapi realitas menekankan pertimbangan-pertimbangan nilai. Terapi realitas menempatkan pokok kepentingannya pada peran klien dalam menilai kualitas tingkah lakunya sendiri dalam menentukan apa yang membantu kegagalan yang dialaminya. Terapi ini beranggapan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan desdruktifnya.
5. Terapi realitas tidak menekankan transferensi. Ia tidak memandang konsep tradisional tentang transferensi sebagai hal yang penting. Ia memandang transferensi sebagai suatu cara bagi terapis untuk tetap bersembunyi sebagai pribadi. Terapi realitas menghimbau agar para terapis menempuh cara beradanya yang sejati, yakni bahwa mereka menjadi diri sendiri, tidak memainkan peran sebagai ayah atau ibu klien.
6. Terapi realitas menekankan aspek-aspek kesadaran, bukan aspek-aspek ketaksadaran. Terapis realitas memeriksa kehidupan klien sekarang secara rinci dan berpegang pada asumsi bahwa klien akan menemukan tingkah laku sadar yang tidak mengarahkannya pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya.
7. Terapi realitas menghapus hukuman. Glasser mengingatkan bahwa pemberian hukuman guna mengubah tingkah laku tidak efektif dan bahwa hukuman untuk kegagalan melaksanakan rencana-rencana mengakibatkan perkuatan identitas kegagalan pada klien dan perusakan hunungan terapeutik.
8. Terapi realitas menekankan tanggung jawab, belajar tanggung jawab adalah proses seumur hidup. Meskipun kita semua memiliki kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk memiliki rasa berguna, kita tidak memiliki kemampuan bawaan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu.
Buwono, S. (2007). Pengembangan collaborative classroom (model pembelajaran terapi realitas pascakonflik menumbuhkan rasa percaya diri dan kebersamaan siswa). Jurnal Cakrawala Kependidikan. Vol. 5, No. 1, 29-38
Corey, G. (2013). Teori dan praktek konseling & psikoterapi. (terjemahan: E. Koswara). Bandung: PT. Refika Aditama.
Glasser, W. (1965). Reality therapy. New York: Harper & Row
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2011/08/26/1519039/Livia.Juga.Korban.Perampokan
No comments:
Post a Comment